Thursday, November 26, 2009

I saw what Olive did see (Saya melihat apa yang Olive juga lihat)


i saw 'binatang qurban' so did she (saya melihat binatang qurban, begitu juga dia)
I met a new people, so did she (saya bertemu dengan orang baru, begitu juga dia)

I saw posters from her window, so did she ( saya melihat poster dari jendelanya, begitu juga dia)
i saw a road sign on my way, so did she (saya melihat papan petunjuk jalan, begitu juga dia)
I saw an underage smoker, so did she (saya melihat anak kecil merokok, begitu juga dia)

As usual, I drove Olive around Jakarta. From Jatiwarna to Pasar Minggu, everything just passing by, like nothing special is wanted to be happened. I am not the one who addicted to keep my mind on track to the illogical political issues that is currently occured. I am not the one who interested to follow the stock growth. But, indeed my mind is constantly thinking about the social issues that are occuring in my country, Indonesia. Too much money is flew away from the rich people without thinking a bit about the unfortunate people out there. I am not judging any one of you.

But yes, definitely i really want to disturb your mind with a life-scene of a kid who lived under the standard of living. A kid who doesn't know which is which. A kid who doesn't even know how to laugh out loud without thinking of how much money that he can earn for today's lunch. No one can be blamed for the fact that he is smoking. Nor the parents or the school. We don't know is he going to school or not. We don't know where the parent is. We don't know what has mr. Government do to handle this issue. Underage smoking. Pity. Mental degradation. I hate when i said the words "mental" and "degradation" in pair. But, it is the fact that we lived on.

Hello, mr. President, can you go down for a while. Bend your knees a little, look into the eyes of these kids and ask them "do you want to go to school, my kid?"
Supposedly they will straightly say "Sir, yes sir"
then pull up your head a little and look deep into the teacher eyes, the eyes of our unnamed heroes. Calmly ask them "what do you want, my dear friend?", write down things that you have to fix up.
We have to solve up this problem soon. I ask you, how many 'Teacher's day' we need more for boosting their life? i don't need your answer right now. i just need your quick act. i am not only talking and asking to mr. President, but also you peopleee.

Seperti biasa, gue kembali menjelajah bersama Olive kemarin. Mengelilingi Jakarta, dari Jatiwarna ke Pasar Minggu. Hari ini gak ada yang seru sama sekali, semuanya berjalan gitu aja, walaupun di luar sana semua media sedang kisruh memperbincangkan kelakuan politikus kita. Tapi sayangnya, gue bukan orang yang suka ngikutin masalah politik yang makin gak masuk akal. Gue juga bukan orang yang suka ngikutin perkembangan saham. Tapi, gue lebih tertarik untuk bisa membantu memikirkan masalah sosial di negara gue ini, Indonesia. Terlalu banyak uang yang keluar dari kantong para orang kaya itu, tanpa pernah sedikit pun mereka memikirkan bagaimana nasib masyarakat kecil. Hahaha ini bukan berarti gue menyindir siapapun di luar sana ya.

Memang gue gak bermaksud menyindir, tapi gue sengaja buat mengganggu pikiran kalian dengan skenario hidup seorang anak kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Anak kecil yang masih belum mengerti untuk bisa membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk. Anak kecil yang belum tentu bisa ketawa lepas sambil tidak memikirkan apakah uang dia cukup untuk makan hari ini. Makanya gak ada yang bisa disalahin, kalo pada kenyataannya dia terjerumus untuk merokok. Kita bahkan gak bisa nyalahin sekolahnya atau orang tuanya. Soalnya kita pun juga gak tau, apakah sebenarnya dia sekolah atau gak. Kita juga gak tau dimanakah orang tuanya sekarang. Kita juga bahkan gak tau apakah Pak Presiden sudah sempat menangani masalah ini atau belum. Perokok dibawah umur. Menyedihkan. Degradasi Mental. Jujur, gue benci untuk memasangkan kata "mental" dan "degradasi". Rasanya kasar, tapi apa boleh buat, inilah dunia yang kita hidupi.

Pak Presiden oh Pak Presiden, coba deh bapak turun sebentar dari singgasana bapak di atas sana. Berlutut sedikit, dan tataplah mata anak anak itu, tanyalah kepada mereka "Apakah kalian mau pergi ke sekolah?"
Gue yakin, pasti mereka langsung menjawab "Iya pak, kami mau"
Kemudian, angkatlah kepala bapak sedikit, tataplah mata para guru. Mata para pahlawan tanpa tanda jasa. Tanyalah kepada mereka dengan lembut, "Apa yang kalian butuhkan, teman temanku?", lalu catatlah hal-hal yang harus bapak sebagai bapak negara lakukan untuk memperbaiki ini semua.

Karena, kita harus segera memperbaiki masalah ini segera. Sekali lagi gue bertanya ke kalian, butuh berapa banyak hari guru lagi sih untuk memperbaiki keadaan ini? Gue gak butuh jawaban kalian sekarang. Yang gue, dan Indonesia butuhkan adalah tindakan yang cepat. Dan pertanyaan ini gak hanya gue tujukan kepada bapak kita yang ada di singgasananya di atas sana, tetapi juga pada kalian.

2 comments:

Lorreta Felice Michelle said...

wah gila keren bgt sampe ada translation nya :P

emang ya kynya issue ginian paling hot apalagi di Jakarta. beda antara si kaya dan si miskin jauuuuuh skaliii.. :(

icha said...

haha abisnya, bener bener gak ada kerjaan. biar pak presiden liat haha

aduuhh, iya hot tapi suka gak diperhatiin. banyak yang lebih suka memperkaya diri sendiri sih dibanding ngebantuin orang lain.ya kan chelle?